Mittwoch, 13. April 2016

Cita dan Cinta

Kalau ditanya orang tentang cita-cita.. dari kecil saya pengen banget jadi insinyur elektro. kenapa? simpel. karena papa saya juga insinyur elektro dan keren aja gitu namanya, hehe.. namanya juga anak kecil, simpel aja kan pikirannya. Seperti si abang Fatih anak tertua kami, ditanya "mau jadi apa nanti, nak?", jawabnya "spiderman". haha. Ditanya kenapa spiderman? jawabnya, "das ist cool, mama". Mendadak mama nya jadi pusing. hihi.

Setelah agak dewasa dan hijrah ke jerman, cita-cita saya udah mulai fokus. "Terjebak" di Studienkolleg (sekolah persiapan untuk calon mahasiswa asing) dengan bidang Teknik, akhirnya saya memutuskan melamar kuliah di jurusan T.Elektro dan Biotechnology. Qodarullaah takdir saya ada di T.Elektro HTW Berlin. Kemudian "terjebak" lagi kuliah disana sampai S2 dan kini setelah punya 2 anak saya masih aja ingin terus sekolah hingga Dr. bahkan Prof. Entah kenapa, saya hanya suka sekali sekolah. Padahal dengan tugas sebagai istri di rumah dan ibu dari 2 anak aja saya jujur udah kewalahan banget berasa gak bisa megang semuanya dengan baik. Di sudut2 rumah masih aja berantakan, masak yg suka ala kadarnya, baju2 anak dan suami yg suka lupa disterika dan seabrek ketidaksempurnaan lainnya. Huhu moga Allah ampuni.

Kesempatan pertama.
2 tahun lalu, saya sempat ditawarkan kuliah S3 sama Professor pembimbing thesis saya yg super baik hati sekali. Saat itu saya lumayan bimbang, mikir Fatih yg sejak umur 6 bulan udah harus dititipkan di day care karena saya harus ngerjain thesis, mikir keperluan si mas yg harus saya kerjain di rumah dengan baik, juga mikir kebutuhan saya yg ingin fokus belajar agama dan ibadah agar seimbang dunia dan akhiratnya. Karena balik lagi, hidup gak melulu hanya mengejar dunia, kan ya? saya sadar bangeeet itu, tapi tetep aja ya manusia memang tempatnya bimbang, gundah dan gelisah. Namun setelah membulatkan tekad dan meluruskan niat, akhirnya saya mengubur cita-cita itu demi cinta saya pada suami dan anak (hehe sok dramatis :p)

Kesempatan kedua.
Beberapa minggu lalu, senior yg pernah saya dan suami kenal di Berlin, udah jadi Prof. Dr. dan sedang membuka lowongan S3 di bidang yang sesuai dan saya taksir sejak kuliah S1 dulu, teknologi laser dan biomedis. Yaa Allaah, betapa Engkau Maha Pembolak-balik hati :')
Singkat cerita, saya kontak lah si abang senior ini, beliau merespon positif dan menyuruh saya segera mengirim aplikasi lamarannya. Daann bimbang itu datang lagi. Kali ini jauuh jauuhhh lebih besar, karena (lagi-lagi) cinta saya terhadap anak2, suami, dan diri saya sendiri yg sebenarnya ingin fokus belajar agama adalah yg jadi "penghalang" utamanya. Sampai saya nulis ini sekarang, saya masih belum nemu keyakinan hati tentang kebimbangan kali ini. Jadi kemarin saya kirim aja dulu aplikasinya, nanti ikutin interview nya dan lihat bagaimana dan kemana Allah Azza Wajalla membawa saya menuju takdir-Nya.

Yaa muqallibal qulub, thabbit qalbi 'ala dhinik. Wahai Tuhan yg Membolak-balikkan hati, tetapkan hati ini di atas agama-Mu.

Yaa muqallibal qulub, thabbit qalbi 'ala'l haqq. Wahai Tuhan yg Membolak-balikkan hati, tetapkan hati ini di atas kebenaran-Mu.

Yaa muqallibal qulub, thabbit qalbi 'ala ta'atik. Wahai Tuhan yg Membolak-balikkan hati, tetapkan hati ini dengan taat kepada-Mu.

-Berlin, bumi Allah, di awal musim semi yg indah dengan bunga dan pohon2 yg bermekaran-

Kommentare:

  1. Baarokalloohu fiik ummu alfatih. Semoga Allah berikan jalan yang terbaik untukmu dan keluargamu. Bear hugsss

    AntwortenLöschen
    Antworten
    1. Wa fiiki baarokallooh, ukhti kesayanganku ❤️ Doa2 terbaik juga untukmu dan keluargamu insyaa Allah :*:*:*

      Löschen
  2. Baarokalloohu fiik ummu alfatih. Semoga Allah berikan jalan yang terbaik untukmu dan keluargamu. Bear hugsss

    AntwortenLöschen
    Antworten
    1. Dieser Kommentar wurde vom Autor entfernt.

      Löschen