Montag, 5. April 2010

Tiba tiba saja teringat si Papa, beliau yang begitu kuhormati dengan cintanya. Betapa gadis kecilnya ini begitu sering membangkang dan tak jarang merengek demi mendapati yang dia diinginkan. Betapa gadis kecilnya ini dengan semena mena menyakiti hatinya hingga pernah membuatnya meneteskan air mata.

Yaa Allah, tolong ampuni hamba dan muliakanlah Papa di hadapanMU kelak. amin.


Pernah suatu hari, beberapa belas tahun yang lalu, papa membaca diari yang kutuliskan di komputernya, beliau tersentak dan mendapati bahwa gadis kecilnya ini lebih lantang berbicara melalui tulisan dibanding kedua anaknya yang lain. "Chip itu perasaannya sensitif", kalimat ini yang Beliau ucapkan setelahnya. Bukan amarah dan pukulan yang waktu itu kuharapkan ketika kutuliskan kalimat demi kalimat yang mengungkapkan kekecewaanku padanya.

-Pertengahan Maret 2006-
Kurang lebih 4 tahun yang lalu kuutarakan keinginanku tuk bisa merasakan pendidikan di Eropa, Jerman tepatnya. Beliau lah yang paling pertama mendukung keinginanku, yang kutau pasti bukan karna alasan prestige bisa menyekolahkan anaknya di eropa, melainkan karna beliau percaya bahwa gadis kecilnya ini bisa lebih cepat berdiri sendiri tanpa beliau di dekatnya dibanding anak gadisnya yang lain.

Yaa Allah, tolong jauhkan Papa dari godaan syaitan yang terkutuk dan siksaan api nerakaMU. amin.


-20 November 2008-
Kakak Perempuanku baru saja menikah. Aku bahagia karenanya. Beberapa hari sebelumnya, tak ayal aku melihat papa yang menatap kakak perempuanku dengan senyum haru. Kulihat beliau belum bisa sepenuhnya ikhlas anak gadis pertamanya 'diambil' oleh lelaki lain pilihannya. Lantas tak heran, bila sewaktu akad nikah, ada getar di setiap ucapannya. Tuk pertama kalinya, beliau menjadi Wali Nikah anak gadisnya sendiri. Tuk pertama kalinya, beliau melepaskan anak gadisnya tuk menentukan jalan hidup bersama pendamping barunya.
Dan sebelum aku kembali ke negara studiku, tanpa kuminta, beliau menungguiku di Cengkareng hingga aku naik pesawat. (fyi, boarding time saat itu sangat tidak menyenangkan, jam 23.30 WIB teman2!!). Aku terharu, terharu, dan terharu karenanya. Tapi tetap saja aku adalah si Chip, anak gadisnya yang sensitif tapi pantang tuk menangis di depan papa nya. Yap. Chipluk, nama panggilan papa untukku. ^^)

I.LOVE.U.DAD.AND.I'LL.ALWAYS.DO.
Betapa aku ingin menjadi 'something' untukmu Pah =')
-ur Chipluk-

Kommentare:

  1. Amiin, ikut mendoakan juga, semoga papanya Devy membaca juga tulisan Devy yang ini :) Amiin.

    AntwortenLöschen
  2. Amiin Allahumma Amiin.. Makasih mbak Munaya ^^)

    AntwortenLöschen
  3. ya allah sdihnya baca tulisan devy sampe sesekk,,,hiksss,,,

    slm kenal yah devi

    AntwortenLöschen
  4. hwee2,, maav klo jd ikutan sedih=') waktu itu lg bner2 kangen papa aja,,

    salam knal juga Sya ^^)

    AntwortenLöschen